Pernah tidak kita
merasa jika kita itu sering merasa malas beribadah ? Apalagi
beberapa hari lagi kita memasuki bulan Ramadhan. Bulan yang sebulan penuh akan kita
fokuskan untuk beribadah. Alangkah baiknya mulai saat ini kita mempertebal iman kita agar kita
selalu giat beribadah setiap saat dan setiap waktu.
Pada kesempatan kali
ini saya ingin berbagi tentang pokok permasalahan tentang alasan mengapa sih
kita merasa malas beribadah?. Barulah kita cari solusinya dan kemudian
pelan-pelan kita berusaha mengambil sikap untuk merubahnya. Mari kita langsung
simak saja..!
Muqaddimah
Allah
berfirman, “Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah
besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena
bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan
tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang
sabar.” (QS Ali Imran: 146).
Di surat
lain menceritakan semangat para malaikat, “Dan milik-Nya siapa yang
di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak angkuh
untuk menyembah-Nya dan tidak pula letih. Mereka bertasbih tidak
henti-hentinya sepanjang malam dan siang.” (QS Al Anbiya’: 19-20).
Definisi
Futur,
secara bahasa mempunyai dua makna.
Pertama yaitu terputus setelah
bersambung, terdiam setalah bergerak terus.
Kedua yaitu malas, lamban atau
kendur setelah rajin bekerja. Futur secara istilah merupakan suatu penyakit
yang dapat menimpa seseorang yang berjuang di jalan Allah. Futur yang paling
ringan menyebabkan seseorang terhenti setelah terus-menerus melakukan ibadah.
Ar Râghib berkata, “Futûr ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, dan
lemah setelah kuat.”
Futur,
kata berasal dari bahasa Arab yang akar katanya adalah: Fatara
– Yafturu – Futurun, yang artinya menjadi lemah dan menjadi lunak.
Atau diam setelah giat dan lemah setelah semangat. Orang yang futur
mengalami penurunan kuantitas dan kulaitas amal shalih/ibadah. Atau
ia mengalami kemerosotan atau kemalasan pada keimanan atau keislamannya. Atau
orang yang mengendur sendi-sendi hatinya sehingga menyebabkan penurunan stamina
ruhiyah yang dapat menjadikannya jauh dari kebaikan dan anjlok produktivitas
amal shalihnya.
Gejala Futur
Maka atas
dasar inilah para ulama meletakkan beberapa tanda (alamat) yang dengannya dapat
diketahui apakah seseorang itu terjangkiti penyakit futûr atau tidak. Ada
banyak tandanya, namun tanda-tanda yang terpenting adalah sebagai berikut:
- Bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan; namun ini tidak bermakna meninggalkan ibadah-ibadah fardhu. Sebab jika ibadah fardhu ditinggal maka seseorang itu berstatus fâsik, ‘âshy (pelaku kemaksiatan), disamping itu dia telah menyerupai orang-orang munafik -sekalipun ia tidak termasuk dari mereka- dimana mereka disifati oleh Allah, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS At Taubah: 54).
- Merasakan kekerasan dan kekasaran hati. Allah azza wa jalla berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hadîd: 16).
- Perhatian yang besar terhadap dunia, sibuk dengan urusan-urusan duniawi dengan jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah ta’ala.
- Banyak ngomong pada hal hal yang tidak bermanfaat. Menyia-nyiakan waktu tanpa faidah. Majlis orang-orang taat diketahui dengan dzikrullah di dalamnya, majlis orang-orang maksiat diketahui dengan kemaksiatan-kemaksiatan di dalamnya. Sedang majlis orang-orang futur diketahui dengan banyaknya pembincangan tak berguna di dalamnya.
- Meremehkan dosa-dosa kecil, padahal tidak ada dosa kecil jika dilakukan berkali-kali atau terus-terusan.
- Gemar menunda-nunda pekerjaan. Barangsiapa yang mentadabburi firman Allah berikut ini, maka ia akan memahami hakikat dari penundaan. “Janganlah kamu pergi berangkat (berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih panas(nya), jika mereka mengetahui.” (QS At Taubah: 81).
Sebab Futur
Pertama, berlebihan dalam Din (Agama).
“Sesungguhnya
Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali
akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim). Karena
itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu.
“Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu kerana sesungguhnya Allah tidak
merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang
paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” (HR.
Bukhari & Muslim).
Kedua, berlebih-lebihan dalam hal
yang mubah.
Allah
berfirman, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesuangguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A‘raf: 31).
Ketiga, memisahkan diri dari jamaah.
Mengedepankan
hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah. Jauhnya seseorang dari jamaah
membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah bersabda: “Syetan itu akan
menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang
terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad).
Keempat, sedikit mengingat akhirat.
Banyak
mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatakan
adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat
menyulitkan seseorang untuk giat beramal.Ini disebabkan tidak
adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah.
Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkaumengetahui apa yang aku ketahui,
niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat
bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya
surge dan ngerinya neraka.” (HR. Muslim).
Kelima, masuknya barang haram ke dalam
perut.
Mengkonsumsi
sesuatu yang syubhat, apalagi haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat,
maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus
dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.” (HR. Bukhari no.
52, dan Muslim no. 1599).
Keenam, tidak mempersiapkan diri untuk
menghadapi tantangan.
“Hai
orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu
ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS Al
Ahqaf: 14).
Ketujuh, bersahabat dengan orang-orang
yang lemah. Rasulullah bersabda:
“Seseorang
sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan
siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud).
Kedelapan, spontanitas dalam beramal.
Tidak ada
perencanaan yang baik, baik dalam skala individu (fardi) maupun komunitas
(jama’i). Amal yang tidak terencana, tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana
yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Karena itu
setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal
ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal.
Terapi Futur
- Menjauhi maksiat dan keburukan. Sebagaimana ibadah bisa menghindarkan diri dari maksiat, maksiat juga bias menjauhkan seseorang dari amal amal kebajikan.
- Istiqamah dengan amalan-amalan harian untuk meningkatkan kekuatan rohani dan jasmani. Hanya dengan persiapan rohani dan jasmani sajalah kita dapat mengarungi berbagai macam rintangan kehidupan.
- Menjaga waktu-waktu yang utama dan menghidupkan amalan ketaatan. Sebagai contoh, berpuasa pada hari Senin dan Kamis, shalat dhuha, memperbanyak zikir dan doa.
- Menjaga diri dari sikap melampau batas dan terlalu menyusahkan diri dalam urusan agama. Melakukan amalan yang sedikit tetapi istiqamah adalah lebih baik daripada melakukan banyak amalan tetapi hanya sesaat.
- Menggabungkan diri dengan jemaah Islam dan meninggalkan ‘uzlah. Hanya dengan menyertai jemaah seseorang itu dapat meningkatkan diri dan tidak mudah tertipu oleh syetan.
- Selalu bergaul dengan orang yang shalih dan banyak melakukan amal shalih.
- Memberi hak-hak tubuh dan jasmani seperti istirahat dan menjaga kesehatan.
- Memberi ruang pada jiwa untuk menikmati perkara-perkara yang dibolehkan, seperti bergurau, bermain dan berekreasi.
- Banyak membaca buku sirah nabi dan sejarah orang-orang yang shalih, agar termotivasi untuk mengikuti jejak mereka.
- Senantiasa mengingat mati dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya seperti azab kubur dan akhirat.
- Sentiasa membayangkan nikmat surga dan azab neraka. Ini akan memantapkan lagi iman dan menguatkan semangat untuk memikul amanah Allah.
- Selalu menghadiri majlis ilmu. Ini kerana ia akan mengembalikan semangat yang kendur, dan mengingatkan ajaran yang terlupakan.
- Memahami kesempurnaan Islam dengan mengamalkan kesyumulan agama itu sendiri. Ini akan mengelakkan pemahaman yang cetek terhadap Islam.
- Sering bermuhasabah diri. Insya Allah ia akan cepat menyadarkan kita daripada kelesuan dan kemalasan (futur).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar