Ramadhan
menjadi bulan istimewa di antara 11 bulan lainnya di kalender Hijriah. Ramadhan
adalah keutamaan waktu dari seluruh fase kebaikan. Pahala yang dijanjikan Allah
di bulan Ramadhan akan bernilai berlipat-lipat ganda dibandingkan waktu
lainnya. Terlebih jika sudah memasuki fase 10 hari terakhir menjelang
berakhirnya ramadhan. Momentum sejak hari ke 21 hingga hari terakhir ramadhan
adalah kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.
Karena di 10 malam terakhir ini terutama di malam-malam yang ganjil terdapat
keberkahan dan keutamaan yang lebih baik dari 1000 bulan. Malam ganjil di 10
hari terakhir menjelang usainya ramadhan ini seringkali dikenal sebagai malam
Lailatul Qadar.
Namun
sayangnya, seringkali banyak sekali kaum muslim di seluruh dunia yang kemudian
lalai akan keutamaan malam lailatul qadar ini. Padahal keutamaan dan
keberkahannya sudah jelas tercantum dalam rangkaian surat Al-Qadar dalam
Al-Quran. Justru ibadah yang harusnya makin menguat di malam 10 hari menjelang
usainya ramadhan ini terpaksa digadaikan dengan alasan kesibukan menyiapkan
lebaran. Ladang pahala yang terhampar selama 10 hari dibiarkan berlalu begitu
saja. Berikut adalah beberapa bentuk godaan terbesar yang seringkali menjadi
pengacau konsentrasi beribadah di malam lailatul qadar:
- Rasa malas
Ramadhan
adalah rutinitas sebulan penuh. Dase ramadhan dapat dibagi menjadi tiga, Fase
10 hari pertama, 10 hari kedua, dan yang paling utama fase 10 hari terakhir.
Faktanya, rasa malas yang melemahkan semua tubuh ini akan datang di sekitar
fase 10 hari kedua. Biasanya di hitungan hari ke 11 hingga ke 20, grafik
beribadah dan berbuat kebaikan akan menurun. Hingga mencapai titik klimaksnya
justru di malam paling utama 10 hari terakhir. Rasa malas makin lama makin
menumpuk dan mencapai titik terendah
- Terlalu banyak kumpul-kumpul bersama teman
Sepuluh
hari terakhir biasanya aktivitas pekerjaan dan belajar sudah memasuki fase
libur. Lalu, Fase 10 hari terakhir ini justru kita makin disibukkan oleh jadwal
berkumpul bersama teman atau saudara dalam acara buka puasa bersama, atau
santap malam bersama. Jika berkumpul dengan maksud mencapai satu tujuan atau
keberkahan dengan mengaji bareng dan shalat berjamaah jelas tak akan merugi,
tapi apabila momen berkumpul hanya menciptakan kelalaian dan penundaan ibadah,
maka sebaikanya kurangi kegiatan tersebut. Perbanyak menjalin hubungan dengan
Allah SWT.
- Belanja kebutuhan lebaran
Kegiatan
ini yang biasanya paling sering mengganggu konsentrasi dan merusak niat ibadah
di 10 hari terakhir ramadhan. Menjelang idul fitri memang kebutuhan sandang dan
pangan akan meningkat drastis. Diskon bertebaran, rezeki pun berlimpah usai
mendapat Tunjangan Hari Raya. Alhasil bukan masjid yang diserbu orang-orang
beribadah, tapi pusat belanja, gerai baju, toko kue, dan tempat berputarnya
uang lain yang justru menjadi lokasi berkumpulnya umat muslim.
- Budaya Mudik
Tak
bisa dipungkiri, budaya mudik sudah menjadi kewajiban rutin yang tak akan bisa
dilepaskan dari rutinitas lebaran di Indonesia. Tak ada yang salah memang,
mudik adalah menyambung silaturahmi dengan keluarga di tanah kelahiran. Mudik
adalah momen menyatukan kebersamaan dalam bahagia idul fitri. Namun masalahnya
seringkali aktivitas mudik ini berlangsung di malam 10 hari terakhir ramadhan.
Sebaiknya jika sudah selesai dengan semua urusan perjalanan mudik, dan sudah
tiba di kampung halaman, jangan lupakan amalan baik seperti itikaf, qiyamul
lail, tilawah, sedekah dll untuk memetik berkah lailatul qadar.
Itulah sebagian kecil dari godaan godaan yang mampu meluluhkan niat dan iman dalam memetik keberkahan 10 hari terakhir ramadhan. Semoga kita bisa tetap istiqomah berlomba-lomba mencapai kebaikan terabaik lailatul qadar. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar